Showing posts with label Teknis. Show all posts
Showing posts with label Teknis. Show all posts

Tuesday, June 25, 2013

Menjadi SITAC (Site Acquisition)

Melakukan Site Hunting / SITAC (Site Acquisition) sebagai upaya  pencarian lokasi yang tepat dan layak untuk dijadikan lokasi BTS. Pencarian lokasi merupakan survey awal sebelum survey lain dilakukan, survey ini untuk mendapatkan lokasi yang terdekat dengan nominal koordinat yang ada dalam desain jaringan (Nominal RF Network and Transmision Network Design).

Proses ini dilakukan dengan cara memetakan data koordinat wilayah BTS (kandidat nominal) yang diperoleh dari bagian Radio Network Planning (RNP). Dari data koordinat yang diberikan oleh RNP maka akan diketahui beberapa BTS yang berada di sekitar gedung atau site makro. Biasanya jumlah koordinat BTS yang diberikan oleh operator adalah tiga.

Mencari Lokasi Site atau Tempat Perencanaan Pembangunan Tower.

Setelah koordinat centre point (cp) dan radius ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah :

1.       Melihat lokasi site di map.

2.       Membuat rencana perjalanan.

  • Route perjalanan dan lama perjalanannya.
  • Transportasi menuju lokasi dan jadwal keberangkatannya.
  • Estimasikan biaya perjalanan dan selama di lokasi pencariaan.
  • Cari informasi dan pelajari buadaya/hukum adat lokal.
3.       Persiapkan peralatan yang digunakan.

  • Peralatan survey (meteran/alat ukur, kompas, GPS, map, alat ukur kontur, kamera digital, recorder, scaner, laptop dan alat tulis).
  • Perlengkapan selama di lokasi (pakaian secukupnya, mantel hujan, obat-obatan/anti malaria jika di papua, buku panduan tentang budaya lokal).
4.    Pada lokasi pencarian.

  • Pilih alat mobilisasi yang sesuai dengan situasi di lokasi.
  • entukan tempat tinggal selama survey (di hotel/penginapan atau di rumah penduduk/kepala desa/kepala suku).
  • Berkoordinasi dengan pemerintah setempat atau pemangku adat/tokoh masyarakat atau kepala suku setempat.
5.    Tips memilih lokasi

  • Ketahui (jika ada) aturan adat setempat yang berkaitan dengan kepemilikan tanah.
  • Jika memungkinkan hindari lokasi yang berbatasan langsung dengan rumah warga atau pemukiman padat penduduk.
  • Pertimbangkan untuk memilih lokasi milik kepala desa/kepala kampung/kepala suku/pemangku adat/tokoh masyarakat setempat agar memudahkan proses sitac.
  • Jangan pernah memilih lokasi yang status kepemilikannya tidak jelas.
  • Jika ada pilihan lain, sebaiknya lokasi site tidak berada pada jalan utama untuk tetapi pada jalan sekunder atau tersier yang kondisinya baik.
  • Perhatikan kondisi (jenis dan lebar) jalan umum menuju lokasi site, agar tidak menyulitkan saat mobilisasi material bangunan/tower.
  • Perhatikan jarak rencana site ke suplai listrik terdekat (jika tersedia).
  • Hindari memilih site pada lokasi dengan kemiringan yang ekstrem atau tanah labil/rawan longsor atau tidak ada akses mobilisasi material tower/bangunan saat pembangunan.
6.    Menyiapkan dan membuat laporan hasil survey.

  • Simpan semua data investigasi dalam bentuk file digital.
  • Periksa kembali semua data yang dibutuhkan sebelum meninggalkan lokasi.
  • Buat deskripsi detail mengenai kondisi lokasi, kondisi masyarakat, route perjalanan/kondisi jalan, moda transportasi menuju lokasi serta prosedure dan jenis  perijinan yang disyaratkan.
  • Dokumentasikan semua hal yang berkaitan dengan investigasi dan survey lokasi.
  • Catat dan simpan (jika ada) nomer telepon/ponsel aparat pemerintah setempat.
7.       Bersiap meninggalkan lokasi survey.
  • Pastikan bahwa tidak meninggalkan tanggung jawab (hutang, janji-janji dan lain sebagainya) di lokasi survey.
  • Pastikan semua alat dan perlengkapan tidak ada yang tertinggal.
Mekanisme Akusisi Lahan.

Dalam mekanisme akuisisi lahan (site aqcuisition) untuk rencana pembangunan tower atau menara telekomunikasi bila tidak dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat, akan memakan waktu dan cukup banyak biaya. Untuk itu di perlukan langkah praktis / alur kerja yang efektif, seperti :

1.       Ukuran lahan, batas-batas serta bentuk lahan yang diakuisisi.
  • Ukur lahan secara tepat dan buat tanda patok.
  • Buat layout sketsa batas lahan berdasarkan kondisi real.
2.       Negosiasi harga (sewa/beli).
  • Buat Berita Acara Negosiasi dan Berita acara Kesepakatan untuk hasil negosiasi.
3.       Identifikasi dokumen akuisisi.
  • Dokumen subyek (berkaitan dengan pemilik lahan seperti :  KTP, KK (Kartu Keluarga), Akta Nikah, Surat Kuasa, Surat Persetujuan Anak, Surat Bank.
  • Dokumen obyek (berkaitan dengan lahan seperti : Sertifikat Tanah, Cover Note Jaksa, Surat Keterangan Notaris, SPPT, PBB.
  • IMB gedung bila posisinya ada di gedung.
4.       Sosialisi warga.

  • Menjelaskan maksud dan tujuan juga dampak dari pendirian tower(community permit/Ijin warga)
5.       Koordinasi dengan dinas perijinan di pemerintah daerah setempat.
  • Mengetahui jenis perijinan yang disyaratkan untuk pembangunan tower seperti : rekomendasi Lurah dan Camat.
  • Mengetahui prosedur pengajuan perijinan.
6.       Lakukan Soil Test atau Hammer Test.

7.       Selesaikan dan lengkapi dokumen akuisisi.

8.       Mendaftar di dinas perijinan untuk Ijin Mendirikan Bangunan dan instansi perijinan lain.

Sukses Dalam Sosialisasi (Community Permit).

Sosialisasi untuk mendapatkan Ijin Warga (community permit) pada rencana pembangunan tower telekomunikasi, terkadang menjadi hal utama yang menentukan suksesnya proses akusisi lahan. Maka kita perlu langkah yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Yang harus dilakukan.

  • Perhatikan penampilan, berpakaianlah yang rapi dan sopan.
  • Berbicara jelas, mudah dipahami dan gunakan bahasa yang dapat dimengerti.
  • Persiapkan semua materi dan hal-hal yang dibutuhkan untuk sosialisasi.
  • Ketahui kondisi sosial dan budaya masyarakat sekitar.
  • Pilihlah waktu yang tepat.
  • Libatkan tokoh masyarakat atau pemerintah setempat dan pemilik lahan.
  • Gunakan metode “Door to door”.
  • Jika harus melakukan sosialisasi secara terbuka (mengumpulkan masyarakat pada satu tempat) maka lakukan terlebih dahulu pendekatan dengan tokoh masyarakat atau kepala desa setempat sebelum pelaksanaan.
  • Berikan penjelasan yang benar tentang keberadaan tower, baik manfaat maupun kemungkinan resikonya.
  • Lakukan langkah/pendekatan persuasif bila menghadapi penolakan atau keberatan dari warga
Yang tidak boleh dilakukan.

  • Tidak menjelaskan atau menjelaskan secara tidak benar tentang tower telekomuniklasi.
  • Tidak berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat (ketua RT, kepala kampung atau kepala desa).
  • Mengabaikan tokoh masyarakat yang berpengaruh di lingkungan tersebut.
  • Mengintiminasi warga baik secara langsung maupun melalui orang tertentu.
  • Bersikap arogan serta tidak mau mendengarkan pendapat/aspirasi warga berkaitan dengan keberadaan tower telekomunikasi di lingkungan mereka.
  • Memberikan janji-janji baik kepada masyarakat maupun aparat pemerintah, yang tidak jelas pemenuhannya.
  • Bertindak konfrontatif menghadapi keberatan/penolakan warga.
  • Memalsukan, mewakilkan tanda tangan warga tanpa persetujuan yang bersangkutan serta mengabaikan warga yang saat sosialisasi tidak berada di tempat.
  • Menitipkan form Ijin Warga kepada pemilik lahan dan membebankan tanggungjawab tersebut kepadanya.
  • Berpakaian seenaknya tanpa ada kesopanan.

Friday, December 16, 2011

Site Investigation Survey

SIS adalah proses investigasi lokasi rencana pembangunan tower / BTS, merupakan hal penting dalam proses pembangunan dan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan untuk proses selanjutnya. Melakukan Site Hunting / SITAC (Site Acquisition) sebagai upaya  pencarian lokasi yang tepat dan layak untuk dijadikan lokasi BTS. Pencarian lokasi merupakan survey awal sebelum survey lain dilakukan, survey ini untuk mendapatkan lokasi yang terdekat dengan nominal koordinat yang ada dalam desain jaringan (Nominal RF Network and Transmision Network Design).

Hasilnya adalah daftar dari beberapa yang membenarkan apakah lokasinya sesuai dengan lokasi untuk penempatan BTS / BSC, Transmision Network dan RF Network, dalam laporan site survey hunting ini mencakup diantaranya melihat posisi lokasi pada peta, situasi tempat lingkungan di mana site tersebut berada, alamat, pemilik lahan, koordinat GPS, foto-foto lokasi dan foto panorama 360 derajat. Semua bentuk laporan ini disesuaikan dengan standar atau format dari operator atau pemilik proyek.

Proses ini dilakukan dengan cara memetakan data koordinat wilayah BTS (kandidat nominal) yang diperoleh dari bagian Radio Network Planning (RNP). Dari data koordinat yang diberikan oleh RNP maka akan diketahui beberapa BTS yang berada di sekitar gedung atau site makro. Biasanya jumlah koordinat BTS yang diberikan oleh operator adalah tiga.

Dasar-dasar pemilihan lokasi
Site Investigation Survey (SIS) adalah rencana untuk menentukan lokasi pembangunan site (tower/BTS)  menjadi hal sangat  penting dalam proses pembangunan yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan proses selanjutnya.

Ada tiga pripsip dasar yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi.

Dapat diakusisi (Leaseable)
Tim Survey harus melakukan investigasi untuk dapat memastikan bahwa lahan yang akan dijadikan kandidat (alternatif) dapat diakuisisi (dibeli maupun sewa). Suatu lahan dapat diakuisisi apabila :
  1. Kepemilikan yang jelas dan status kepemilikannya
  2. Tidak dalam keadaan sengketa baik kepemilikan maupun batas-batasnya
  3. Tidak dijadikan jaminan kepada pihak lain
  4. Pengajuan harga lahan oleh pemilik sesuai dengan harga yang berlaku di daerah tersebut.
Perijinan (Permitable)
Tim Survey harus memastikan bahwa semua perijinan memungkinkan untuk pembangunan site (tower/BTS) di tempat tersebut. Tim harus memastikan bahwa :
  1. Tidak terdapat penolakan oleh warga sekitar pembanguna baik secara individual maupun kolektif (Adat).
  2. Apabila kandidat lebih dari satu, maka pastikan bahwa radius ketinggian tower tidak berpotongan dengan radius kandidat lain sehingga tidak membuka peluang untuk gagal IW (ijin warga) pada semua kandidat.
  3. Garis Sempadan Bangunan (GSB), Garis Sempadan Jalan dan Garis Sempadan Sungai (GSS) yang berlaku (Perlu rekomendasi dari Tata Kota / Pemda)
  4. Semua regulasi yang berlaku di daerah tersebut tidak ada yang secara khusus mengatur tentang pembatasan pembangunan tower telekomunikasi, dalam hal ini berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
  5. Apabila terdapat pengaturan secara khusus mengenai pembatasan ijin, maka tim harus mampu mendiskripsi peluang yang ada untuk kelanjutan pembangunan tower.
  6. Daerah rencana pembangunan tower bukan merupakan kawasan yang tidak diijinkan bagi penempatan bangunan.
  7. Dalam hal rencana pembangunan tower berada dalam kawasan khusus (misalnya di KKOP/sekitar bandara, perhutani/kawasan hutan, tanah milik negara, tanah adat, dsb) maka  harus berkoordinasi dengan institusi bersangkutan.
Memungkinkan Untuk Pembangunan (Contructable)
Tujuan akhir dari survey ini adalah menyediakan tempat bagi berdirinya tower telekomunikasi sehingga dapat terjangkau oleh jaringan telekomunikasi, untuk itu hal terakhir yang yang harus dipastikan dan menjadi dasar penentuan lokasi tower adalah bahwa di lahan tersebut dapat dibangun tower. Syarat-syaratnya sebagai berikut
  1. Luas lahan sesuai dengan kebutuhan
  2. Asupan listrik tersedia dan mencukupi
  3. Akses jalan menuju lokasi tersedia dan mudah dijangkau. (Usahakan akses lokasi masih milik pemilik lokasi bukan milik orang lain)
  4. Bukan daerah rawan banjir
  5. Tidak membutuhkan pekerjaan tambah dengan tingkat kesulitan dan resiko tinggi
Dengan ketiga prinsip dasar tersebut diharapkan Tim Survey sukses menemukan lokasi untuk pembangunan tower yang direncanakan dan dapat di eksekusi untuk proses selanjutnya.
Laporan akhir (Reporting)
Merupakan pembuatan sebuah laporan dari hasil survey yang selanjutnya dilakukan untuk proses DRM (design review meeting) sebagai proses akhir untuk melakukan pembahasan mengenai hasil survey lapangan bersama pemberi pekerjaan (vendor atau operator). Untuk contoh reporting SIS survey bisa download disini sebuah report yang pernah saya kerjakan.

Semoga bermanfaat, berdasar dari pengalaman.

Monday, August 1, 2011

Line Of Sight Microwave Survey

LOS (Line of Sight) Survey di ibaratkan sebagai jarak pandang antara mata dengan objek yang dilihatnya. Survey MW (Microwave) atau TRM (Transmission) dilakukan untuk menghindari penghalang (Obstacle) dari sebuah lintasan sinyal dan menentukan apakah perangkat yang digunakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Dapat juga di definisikan sebagai aktivitas untuk memverifikasi kelayakan suatu jaringan telekomunikasi dengan tujuan menemukan titik spesifikasi pelanggan, tetapi juga mengoptimalkan cakupan dan meminimalkan biaya yang di keluarkan.

Sebelum perencanaan link, antenna dan seterusnya kita harus melakukan aktivitas ini untuk memprediksi bagaimana kita dapat menempatkan ketinggian antenna dari hambatan yang terlihat. Sebelum melakukan aktivitas ini dan untuk meminimalisir kesalahan biasanya team survey berangkat ke lokasi akan diberikan data berupa koordinat titik nominal untuk NE (Near end) dan FE (Far end) nya dari dari pemberi pekerjaan (Operator atau Vendor).


Persiapan LOS survey

Mempelajari map study. Sebelum melakukan survey, lebih baik kita mempelajari peta telebih dahulu untuk mengetahui seberapa jauh lokasi, letak daerah sebagai acuan dalam mengambil arah mana yang tercepat untuk sampai  ke lokasi tujuan. Sebagai alat bantu kita bisa menggunakan map atau study map. Setelah itu, periksa peta topografhic. Dari situ kita bisa menganalisa medan seperti gedung, sutet , pohon, gunung, lembah, bukit dan sebagainya. Sebagai alat bantu kita dapat menggunakan Global Mapper atau Google Earth.

Topology. Periksa kapasitas cross connect link pada existing site. Persiapan tersebut dibutuhkan untuk mengusulkan beberapa FE yang tersedia. Jika kapasitas penuh maka FE tidak dapat diajukan, kemudian periksa FE yang lainya untuk memastikan masih tersedianya kapasitas. Periksa perangkat atau equipment  dalam,  apakah masah ada tempat untuk penambahan link tersebut. Pilih beberapa site yang sudah ada sebagai FE dengan topografi, lokasi, dan link terdekat yang menjadi hub site. Akan lebih baik jika kita mensi mulasikan link dengan software (Pathloss) dengan mempertimbangkan ketinggian tower dan ketinggian antenna yang akan di pasang.

Pelaksanakan LOS survey

Tools yang digunakan. Seorang pelaksana survey di haruskan membawa (GPS,Compass, Clinometers Meteran, Camera, Mirror, Map Layout, Binocullar, Safety belt, Helm).

Titik koordinat. Masukkan koordinat di GPS dan biarkan perangkat menavigasi jalan ke lokasi tujuan. Routing fitur harus diaktifkan sehingga track diplot untuk mempelajari lokasi lebih lanjut. GPS harus dapat tersambung dengan komputer melalui MapSource, sehingga semua informasi dari GPS dapat disimpan di komputer juga sebaliknya. Pastikan lokasi site yang di kunjungi adalah benar, untuk menghindari terjadinya kesalahan usahakan datangi terlebih dahulu FE nya dan tandakan bidang tertinggi yang terdekat dari site FE tersebut.

Pengambilan gambar. Yang pertama dilakukan adalah pengambilan panorama, umumnya per 30 derajat dimulai dari 0 derajat sampai dengan 360 derajat. Pengambilan gambar harus 30 persen langit dan 70 persen bumi, bila new site naikilah bidang yang tinggi seperti pohon, gedung atau yang lainnya, carilah bidang yang terdekat dari titik koordinat. Kedua adalah pengambilan gambar dari NE ke FE atau sebaliknya, lakukan pengambilan dengan cara pembesaran, setengah, dan kecil, untuk memastikan adanya halangan atau tidak. Ketiga adalah pengambilan gambar untuk kondisi site, seperti lokasi site, akses jalan,  menara, perangkat, power, KWH dan trafo PLN terdekat.

Penentuan ketinggian. Pada existing site carilah posisi yang tersedia pada menara. Gambar kaki menara sangat diperlukan sebagai bahan analisa untuk pemasangan antenna MW sehingga kita dapat memprediksi sisi mana pada kaki menara yang masih ada tempat. Pada new site kita harus dapat memprediksi pada ketinggian berapa antenna tersebut akan dipasang, juga harus dapat memastikan tidak terjadi halangan ke sisi FE.

Pemetaan dengan gambar. Melakukan sketsa gambar lokasi site (site layout), lokasi peletakan perangkat dengan mengukur dimensi dari perangkat guna memastikan masih ada tempat kosong untuk penambahan perangkat baru. Sketsa gambar untuk (antenna layout) digunakan sebagai data pada saat ini dan yang akan datang. Kita harus memeriksa ketinggian, ukuran dan jenis antenna yang terpasang pada kaki menara. Untuk memudahkan penggambaran, berikan nama atau kode pada setiap kaki menara. Cara menentukan nya, yang pertama adalah milihat compass sisi arah utara, kaki menara yang memiliki nilai terkecil adalah kaki yang pertama dan untuk penentuan selanjutnya hanya dengan menyesuaikan kaki menara yang lain searah dengan jarum jam.

Tracking. Setelah posisi NE dan FE telah dikonfirmasi. Sekarang kita melacak di sepanjang jalan dari NE ke FE. Idealnya, kita harus mengikuti link pada garis lurus, untuk mengetahui jika ada halangan seperti gedung, menara, pohon, dan lainnya dengan mencari referensi ketinggian dari bidang tersebut. Namun  kendala ke daera  berbukit yang tidak dapat dikunjuni. Kita hanya menandai hambatan sepanjang jalur link dari tempat lain. Seiring pelacakan, kita melihat kondisi jalan apakah pemukiman, pertokoan, perbukitan,  perkantoran, pasar, pegunungan atau yang lainnya. Lihatlah dan ambil data di sepanjang jalur link untuk perhitungan penggunaan perangkat MW. 

Laporan akhir (Reporting)

Reporting. Merupakan pembuatan sebuah laporan dari hasil survey yang selanjutnya dilakukan untuk proses DRM (design review meeting) sebagai proses akhir untuk melakukan pembahasan mengenai hasil survey lapangan bersama pemberi pekerjaan (vendor atau operator). Untuk contoh reporting LOS survey bisa download disini sebuah report yang pernah saya kerjakan.

Semoga bermanfaat, berdasar dari pengalaman.

Thursday, July 28, 2011

VSWR Dengan Anritsu Site Master

Dalam implementasi jaringan telekomunikasi bagi para RF enginner mungkin sudah dak asing dengan kata SWR singkatan dari (Standing Wave Ratio), adapun yang menyebut dengan VSWR (Voltage Standing Wave Ratio).

Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms maksimum dan minimum yang terjadi pada saluran yang tidak (match) bila saluran transmisi dengan beban tidak sesuai (missmatch), di mana impedansi saluran tidak sama dengan Impedansi beban dan gelombang dibangkitkan dari sumber secara kontinyu, maka dalam saluran transmisi selain ada tegangan datang (V+), Juga terjadi tegangan pantul (V-).

Akibatnya dalam saluran akan terjadi interferensi antara (V+) dan (V-) yang membentuk gelombang berdiri (standing wave). Suatu parameter baru yang menyatakan kualitas saluran terhadap gelombang berdiri disebut dengan Voltage Standing Wave Ratio (VSWR).

Hubungan antara SWR dengan Return Loss prinsipnya sama saja, nilai SWR sendiri dinyatakan dalam rasio atau perbandingan dan nilai Return Loss dinyatakan dB. Antena yg bagus menyerap energi 90% dan 10% yg dipantulkan kembali ke sumber.

Nilai SWR ini sangat dipengaruhi oleh dua hal.
  1. Perbedaan Impedanasi saluran transmisi dengan beban. 
  2. Diskontinuitas saluran transmisi, yg disebabkan oleh pemasangan konektor yg kurang bagus, bending feeder terlalu berlebihan atau kerusakan pada feeder itu sendiri.
Adapun alat ukur yang digunakan.
  1. Site Master ANRITSU.
  2. Precision OPEN / SHORT.
  3. Precision TERMINATION / LOAD.
  4. Test Port Extension Cable.
Ada beberapa item prosedur pengukuran. 
  1. Setting Frekuensi dan Kalibrasi.   
  2. Pengukuran VSWR.   
  3. Pengukuran Return Loss (RL).   
  4. Pengukuran Distance to Fault (DTF).   
  5. Pengukuran Cable/Waveguide Loss (CL). 
Sekilas teknik pengukuaran. 

Kadang-kadang SWR meter tidak menunjukkan harga standing wave ratio yang sebenarnya, terutama bila SWR jauh dari 1 : 1. Ini akibat rugi-rugi pada saluran transmisi. SWR meter diletakkan dekat pemancar. Misalkan tegangan maksimum yang keluar dari TX adalah 10 volt. Karena rugi-rugi saluran, tegangan yang sampai di antena adalah 9 volt. Tegangan pantul dari antena 3 volt. Tegangan ini disalurkan ke TX yang juga mengalami redaman. 
    Sampai di TX tinggal 2,7 volt. SWR yang terbaca :


    Namun bila SWR diletakkan di dekat antenna, SWR yang terbaca adalah :

    Ternyata kedua pengukuran berbeda. Hasil yang benar adalah 1 : 2,0. Jadi bila SWR meter diletakkan dekat TX SWR yang sesungguhnya lebih besar daripada yang terukur. Kesalahan akan bertambah besar bila saluran transmisinya panjang. Dalam praktek cara pertama boleh dipakai bila SWR menunjukkan rendah (SWR 1 : 1,1) karena penambahannya sedikit. Tetapi bila penunjukan 1 : 1,0 atau lebih segeralah pindahkan SWR meter ke dekat antena agar penunjukannya tidak terlalu banyak meleset. Apalagi bila koaxialnya panjang sekali (20 meter atau lebih) atur kembali matching antenna anda.

    Umumnya, hanya dua hal yang dihitung dari penggunaan VSWR, yaitu DTF (Distance to Fault) dan SWR (Signal Wave Ratio).
    1. GSM 2G 900 : 890 – 960
    2. GSM 2G 1800 : 1710 – 1880
    3. UMTS 3G : 1980 – 2170
    Hasil yang baik dengan nilai normal yang di syaratkan adalah 1,04 untuk DTF dan 1.4 untuk VSWR. Untuk mendapatkan nilai tersebut yang perlu diperhatikan adalah : 
    1. Kalibrasi alat ukur harus selalu dilakukan sebelum memulai pengukuran.  
    2. Mengetahui spesifikasi material seperti Loss Connector, Feeder, jumper eeder, splitter, antenna dan lain-lain.
    3. Sebelum pengukuran, pastikan dahulu bahwa instalasi sudah terpasang bagus. 
    4. Menggunakan kabel extension lebih leluasa bergerak pada waktu pengukuran.

    Wednesday, July 27, 2011

    Sekilas Tentang Minilink-TN

    MINI-LINK TN merupakan produk generasi penerus dari MINI-LINK E yang dikeluarkan oleh vendor telekomunikasi ternama di dunia Ericsson. Sistem MINI-LINK TN menggabungkan fitur radio microwave dengan routing traffic capacity, PDH/SDH multiplexing serta mekanisme perlindungan pada tingkat link dan jaringan, meminimalkan penggunaan kabel, penggunaan ruang, meningkatkan kualitas jaringan dan memfasilitasi kontrol dari lokasi jarak jauh.
     
    Dengan tingkat integrasi yang tinggi, ruang rak dapat dikurangi hingga 70% dibandingkan dengan produk terdahulunya. Konfigurasi berkisar dari ujung site dengan satu terminal radio tunggal ke site hub besar di mana semua traffic capacity dari sejumlah link dapat dikumpulkan ke dalam satu link, microwave atau optic.

    MINI-LINK TN memiliki fleksibilitas jauh lebih baik dari pada sistem microwave radio lain karena arsitekturnya yang fleksibel. MINI-LINK TN terminal terintegrasi radio menyediakan transmisi gelombang mikro dari 2x2 ke 32x2 Mbit/s, beroperasi dalam pita frekuensi 7-38  GHz, menggunakan C-QPSK dan 16 QAM skema modulasi. Hal ini dapat dikonfigurasi sebagai konfigurasi terlindungi (1 +0) atau dilindungi (1+1).

    Meningkatkan kapasitas telah menjadi pendorong utama dalam produk ini. Bahkan 64xE1/128 kapasitas QAM sudah didukung oleh MINI-LINK TN untuk mempertimbangkan kemampuan penanganan traffic capacity dan unit radio baru. Fleksibilitas Transmisi mengambil lompatan kuantum dengan teknologi terbaru yang diperkenalkan. 

    Teknologi radio terkini adalah kapasitas 4-155 Mbit/s dan dari modulasi 4-128 QAM. Sebagai unit radio baru cocok untuk semua point-to-point unit modem menawarkan kapasitas-upgrade mudah antara produk MINI-LINK. Hal ini juga memperkenalkan logistik yang lebih efisien.

    Untuk MINI-LINK TN khususnya teknologi baru ini cocok karena akan menggabungkan unit modem semua kapasitas yang didukung oleh radio baru. Teknologi radio baru tersedia secara komersial dalam 7, 13, 15, 18, 23, 26, 28, 38 GHz.

    Produk MINILINK-TN
    • Produk 19 modem per subrack AMM 20p (20 posisi), di mana satu dialokasikan oleh NPU memungkinkan hingga 19 slot yang tersedia untuk ekspansi dengan kombinasi sirkuit misalnya semua MMU/LTU. 
    • Produk 5 modem per subrack AMM 6p (6 posisi), di mana satu dialokasikan oleh NPU, memungkinkan hingga 5 slot yang tersedia untuk ekspansi dengan kombinasi sirkuit misalnya semua MMU/LTU. 
    • Produk 2 modem per subrack di AMM 2p (2 posisi) keduanya tersedia untuk unit modem, memungkinkan AMM 2p untuk bertindak sebagai site repeater atau terminal microwave dilindungi. 
    Functionality Overview
    • Microwave radio function 
    • Traffic routing function 
    • Circuit Management 
    • STM-1 Terminal Multiplexer function 
    • Ethernet function 
    • Protection mechanisms 
    • Synchronization 
    • Co-siting function 
    • Operation & Maintenance 
    • Data Communication Network 
    • Management Tools
    Modem yang di miliki sepenuhnya kompatibel dengan dasar yang terinstal pada MINI-LINK E. Yang sangat penting pada MINI-LINK TN baru modem interface terhadap radio yang ada (RAU1 dan RAU2) yang memungkinkan migrasi tanpa harus mengubah apa pun dalam instalasinya.

    Ericsson mendorong pengembangan jaringan microwave masa depan yang berkomitmen untuk terus memperkenalkan inovasi baru, produk inovatif. Produk dari MINI-LINK TN memberikan operator untuk tumbuh dalam jaringan microwave generasi berikutnya.

    Friday, July 22, 2011

    SIS SES And LOS Survey

    Para Operator jasa Telekomunikasi untuk memperluas atau menambah kapasitas jaringan yang dilakukan pada umum nya adalah penambahan lokasi penempatan BTS (Base Transceiver Station), yang lebih kita kenal dengan nama Site.

    Dimana BTS berfungsi untuk menjembatani perangkat komunikasi pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain. Satu cakupan pancaran BTS dapat disebut Cell. Komunikasi seluler adalah komunikasi modern yang mendukung mobilitas yang tinggi. Dari beberapa BTS kemudian dikontrol oleh satu Base Station Controller (BSC) yang terhubungkan dengan koneksi microwave ataupun serat optik. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut pada tahap awal kita harus memahami betapa pentingnya SIS, SES dan LOS survey.

    SIS (Site Investigation Survey)

    SIS adalah proses investigasi lokasi rencana pembangunan tower / BTS, merupakan hal penting dalam proses pembangunan dan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan untuk proses selanjutnya. Melakukan Site Hunting / SITAC (Site Acquisition) sebagai upaya pencarian lokasi yang tepat dan layak untuk dijadikan lokasi BTS. Pencarian lokasi merupakan survey awal sebelum survey lain dilakukan, survey ini untuk mendapatkan lokasi yang terdekat dengan nominal koordinat yang ada dalam desain jaringan (Nominal RF Network and Transmision Network Design).

    Hasilnya adalah daftar dari beberapa yang membenarkan apakah lokasinya sesuai dengan lokasi untuk penempatan BTS / BSC, Transmision Network dan RF Network, dalam laporan site survey hunting ini mencakup diantaranya melihat posisi lokasi pada peta, situasi tempat lingkungan di mana site tersebut berada, alamat, pemilik lahan, koordinat GPS, foto-foto lokasi dan foto panorama 360 derajat. Semua bentuk laporan ini disesuaikan dengan standar atau format dari operator atau pemilik proyek.

    Proses ini dilakukan dengan cara memetakan data koordinat wilayah BTS (kandidat nominal) yang diperoleh dari bagian Radio Network Planning (RNP). Dari data koordinat yang diberikan oleh RNP maka akan diketahui beberapa BTS yang berada di sekitar gedung atau site makro. Biasanya jumlah koordinat BTS yang diberikan oleh operator adalah tiga.

    SES (Site Engineering Survey)

    SES adalah proses investigasi yang dilakukan berkaitan dengan pekerjaan engineering. Pada site baru biasanya harus memperhatikan akses jalan, letak posisi PLN, counter tanah, kekuatan gedung dan lain sebagainya, dan jika site existing, maka harus melakukan pengecekan dan pengukuran terhadap beban KWH meter yang digunakan, mengukur posisi area penempatan apakah masih ada tempat untuk pemasangan perangkat baru. Berikut juga pada tower apakah posisi antenna yang akan dipasang memiliki tempat sesuai dengan yang direncanakan.

    Diperlukan melakukan survey RF (Radio Frequensi) untuk sepenuhnya memahami perilaku gelombang radio sebelum menginstal titik akses jaringan nirkabel. Karena pada sistem nirkabel, sangat sulit untuk memprediksi gelombang radio dan mendeteksi keberadaan yang mengganggu sinyal. Bahkan jika site mikro antenna yang digunakan omni-directional, gelombang radio tidak benar-benar menempuh jarak yang sama di semua arah. Sebaliknya dinding, pintu, lift shafts, manusia, dan kendala lainnya menawarkan berbagai tingkat atenuasi, yang menyebabkan Radio Frequensi pola radiasi tidak teratur dan tak terduga. Begitu juga untuk antenna luar biasa yang dikenal dengan site macro yang harus diperhatikan seperti tinggi gedung, pohon, tower atau sutet. Langkah selanjutnya melakukan tracking sejauh 2-5 Km dari lokasi site ke setiap arah jalan,sambil melakukan marking potensial pasar.

    Hasilnya adalah berupa desain gambar rencana penempatan perangkat transmisi yang diusulkan, kesiapan lokasi meliputi: ruang untuk perangkat, tower, power supply dan cadangan power supply, foto panorama 360 derajat. menyediakan informasi yang cukup untuk menentukan jumlah dan penempatan jalur akses yang menyediakan cakupan yang memadai di seluruh fasilitas. Pada sebagian besar implementasi, "cakupan yang memadai" berarti mendukung data rate minimum. Sebuah survey RF juga mendeteksi adanya gangguan yang berasal dari sumber lain yang dapat menurunkan kinerja dari nirkabel.

    LOS (Line of Sight) Survey)

    LOS di ibaratkan sebagai jarak pandang antara mata dengan objek yang dilihatnya. Survey transmission dilakukan untuk menghindari penghalang dari sebuah lintasan sinyal microwave dan menentukan apakah transmisi yang digunakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Untuk menghindari kesalahan bisanya team survey berangkat ke lapangan, akan berikan data berupa coordinat titik nominal untuk Near end dan Far end nya dari operator atau vendor.

    Hasilnya adalah alamat lokasi disertai dengan koordinat GPS, peta Lokasi dan situasi lapangan, data Transmisi Existing dilokasi yang sudah ada, Tipe Transmisi, Frekuensi, Konfigurasi dan kapasitas transimisi, Path profile Line Of Sight (LOS), dan pathloss kalkulasinya. Keseluruhan data tersebut dipakai untuk membuat design oleh seorang TNP (Transmission Network Planning) untuk perencanaan jaringan transmisi yang meliputi perencanaan perangkat yang dipakai, frekuensi yang akan digunakan, konfigurasi perangkat, serta jumlah kapasitas yang akan dipasang.


    Alat yang digunakan

    Peralatan Inti
    Peralatan Tambahan
    GPS
    Recorder
    Kamera
    Clinometer
    Kompas
    Mirrors
    Meteran
    Altimeter
    Safety belt
    Laptob
    Helmet
    Map
    Binoculars

    Multimeter

    Software yang digunakan

    Software
    Pathloss
    Map Info
    Global Mapper
    Map Source
    CAD
    MS Office


    DRM (Design Review Meeting)

    DRM adalah proses akhir untuk melakukan pembahasan mengenai hasil survey lapangan bersama pemberi pekerjaan. Semua data di yang diperlukan dikumpulkan sebelum membuat reporting kepada vendor atau operator sebagai pemberi pekerjaan untuk proses selanjutnya hingga pada proses implementasi.


    Semoga bermanfaat, berdasar dari pengalaman.